Aspek Kesejahteraan Masyarakat

Gambaran kondisi aspek kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Barat diuraikan dalam fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dan fokus kesejahteraan sosial.

  1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

    Kesejahteraan secara umum tidak dapat hanya diukur dari persoalan ekonomi namun pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator dari dampak kebijakan pembangunan secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi merupakan kontribusi dari pertumbuhan berbagai macam sektor ekonomi, yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat perubahan ekonomi. Bagi daerah, indikator ini penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan yang telah dicapai dan berguna untuk menentukan arah pembangunan dimasa yang akan datang.

     

    Aspek Kesejahteraan Masyarakat
    Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
    di Kalimantan Barat Tahun 2008-2012

     

    NO

    INDIKATOR

    TAHUN

    2008

    2009

    2010

    2011

    2012

    1 Pertumbuhan PDRB (%) 5,42 4,80 5,47 5,97 5,83
    2 PDRB per kapita (Rp. Juta) 11,39 12,47 13,75 15,11 16,83
    3 Laju inflasi Ibukota Provinsi (%) 11,19 4,91 8,52 4,91 6,62
    4 Angka Pengeluaran per kapita (Rp.ribu) 624,74 630,34 631,35 635,85 640,89
    5 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 68,17 68,79 69,15 69,66 70,22
    6 Indeks Gini 0,31 0,32 0,37 0,40 0,38
    7 Angka Kemiskinan (%) 11,07 9,3 9,02 8,48 7,96
    8 Angka Pengangguran (%) 5,41 5,44 4,62 3,88 3,48

    Sumber: RPJMD Prov. Kalbar 2013 - 2018

    Pertumbuhan Ekonomi Kondisi kinerja pembangunan terkait dengan kesejahteraan dan pemerataan ekonomi di Kalimantan Barat dalam kurun waktu tahun 2008 secara umum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Angka pertumbuhan ekonomi yang pada tahun 2008-2009 hanya tumbuh sebesar 5,24% dan 4,80% sebagai imbas kondisi eksternal yaitu krisis ekonomi globalmulai menunjukkan perkembangan positif pada tahun 2010 yaitu sebesar 5,47%. Selanjutnya, pada tahun 2011 dan 2012 tumbuh sebesar 5,97% dan 5,83% sehingga rata-rata pertumbuhan selama lima tahun adalah sebesar 5,50%.

    Secara sektoral semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi secara berturut-turut dialami oleh sektor bangunan 9,78%, sektor jasa yaitu 7,71%, dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yaitu 6,66%. Sektor-sektor yang memiliki peranan cukup besar sebagai penggerak utama (primemover) perekonomian Kalimantan Barat adalah sektor pertanian, perdagangan dan industri pengolahan, dengan pertumbuhan masing-masing sektor adalah 4,30%, 6,60% dan 3,10%.

    Selama kurun waktu 2008-2012, sektor pertanian merupakan sektor yang paling besar memberikan sumbangan bagi pembentukan PDRB Kalimantan Barat namun peranannya terus berkurang,kondisi ini dapat menjadi indikasi terjadinya pergeseran struktur ekonomi di Kalimantan Barat. Tahun 2012 kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB sebesar 24,10%. Hampir seluruh sektor pertanian yaitu subsektor tanaman bahan makanan, peternakan, kehutanan dan perikanan peranannya mengecil dibandingkan tahun 2011. Meski demikian, secara umum sektor pertanian masih menjadi tumpuan bagi perekonomian daerah di Kalimantan Barat terutama dalam penyerapan tenaga kerja.

    PDRB per Kapita Berdasarkan data BPS Kalbar, PDRB Kalimantan Barat setiaptahunmengalami peningkatan, dengan rata2 pertumbuhan di atas satu juta rupiah per tahun. Dengan mempertimbangkan laju pertumbuhan inflasi, maka pengaruh pertumbuhan PDRB per kapita terhadap peningkatan daya beli masyarakat menjadi tidak begitu besar. Laju inflasi di Kota Pontianak berfluktuasi dari tahun 2008 sampai dengan 2012 dengan rata-rata sebesar 7,45%.

    Pengeluaran per Kapita Pengeluaran per kapita Kalimantan Barat diukur dengan indikator rata-rata konsumsi riil yang telah disesuaikan. Selama periode 2008-2012, angka pengeluaran per kapita selalu menunjukkan peningkatan meskipun masih kurang dari 1% dan di bawah rata-rata nasional.

    Indeks Pembangunan Manusia Angka capaian Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Barat sejak tahun 2008 terus menunjukkan peningkatan, yaitu dari 68,17 menjadi 69,66 pada tahun 2011. Pada tahun 2012, diperkirakan mencapai 70,22. Angka capaian IPM ini merupakan akumulasi dari capaian IPM kabupaten/kota se Kalimantan Barat. Pada tahun 2008, kabupaten dengan IPM terendah adalah Kabupaten Sambas (63,73) dan tertinggi adalah Kota Pontianak (72,08). Sedangkan pada tahun 2011, kabupaten terendah adalah Kabupaten Kayong Utara (65,75) dan tertinggi adalah Kota Pontianak (73,43).

    Angka Kemiskinan dan Kesenjangan Kinerja penurunan angka kemiskinan Kalimantan Barat pada periode 2008-2012 menunjukkan hasil yang cukup signifikan, yaitu dari 11,07% pada tahun 2008 menjadi 7,96% pada tahun 2012. Berdasarkan data BPS, sebagian besar penduduk miskin berada di kawasan pedesaan.

    Tingkat Pengangguran Angka pengangguran di Kalimantan Barat selama periode 2008-2012 juga menunjukkan penurunan melampaui target yang ditetapkan. Kondisi Kabupaten/Kota juga pada umumnya demikian.

  2. Fokus Kesejahteraan Sosial

    Pendidikan Angka melek huruf di Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan trend peningkatan sejak tahun 2008 sampai dengan 2011. Tahun 2008 mencapai 89,40 % dan di tahun 2011menjadi 90,51% serta tahun 2012 diperkirakan mencapai 90,79 %. Jika dibandingkan dengan rata-rata nasional, maka angka melek huruf Kalimantan Barat masih berada di bawah capaian nasional. Berdasarkan capaian per kabupaten/kota, tahun 2011 Kota Pontianak memiliki capaian tertinggi 95,02 % sedangkan angka melek huruf terendah di Kabupaten Kubu Raya sebesar 88,30 %.

    Angka rata-rata lama sekolah menunjukkanpeningkatan dari 6,70 tahun pada tahun 2008 menjadi 6,89 tahun pada tahun 2011. Pada tahun 2012 diperkirakan meningkat menjadi 6,92 tahun. Data kondisi kabupaten/kota pada tahun 2011 menunjukkan Kota Pontianak memiliki rata-rata lama sekolah tertinggi (9,45 tahun) dan yang terendah dimiliki oleh Kabupaten Kayong Utara (5,73 tahun).

    Kesehatan Angka usia harapan hidup di Kalimantan Barat secara umum terus meningkat. Pada tahun 2008 Angka Usia Harapan Hidup mencapai 66,30 tahun, di tahun 2011 meningkat menjadi 66,75 tahun. Pada tahun 2012 angka tersebut diperkirakan naik menjadi menjadi 66,92 tahun.Namun, jika dibandingkan dengan rata-rata nasional maka angka usia harapan hidup Kalimantan Barat masih berada di bawah capaian nasional. Kondisi di Kabupaten/Kota berdasarkan data tahun 2012 menunjukkan bahwa rata-rata angka usia harapan hidup tertinggi berada di Kabupaten Bengkayang (69,15 tahun) dan yang terendah adalah Kabupaten Sambas (61,64 tahun).

    Berdasarkan target MDG's, Angka KematianBayi (AKB) pada tahun 2015 menurun menjadi 19 per 1.000 kelahiran hidup.Angka kematian bayisejak tahun 1994-2010 telah terjadi penurunan dari 97 menjadi 27 per 1.000 kelahiran hidup, dengan rincian AKB laki-laki 32 per1.000 kelahiran hidup dan AKB perempuan 23 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini masih lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan AKB Nasional yaitu sebesar 26 per 1.000 kelahiran hidup.

    Merujuk pada Laporan Indikator Data Base 2005, Angka Kematian Ibu (AKI) di Kalimantan Barat sebesar 403,15 per 100.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan angka nasional pada periode 1998–2002sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2007 sebanyak 228 per 100.000 kelahiran hidup, maka AKI di Kalimantan Barat jauh lebih tinggi jika dikaitkan dengan target nasional tahun 2010 yaitu 150 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan berdasarkan data yang dilaporkan Dinas Kesehatan pada tahun 2011, terjadi 110 kasus kematian ibu dari 86.174 kelahiran hidup.

    Angka Kematian Balita (AKABA) berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 1994 adalah 93 per 1.000 balita dan tahun 2007 turun menjadi 59 per 1.000 balita. Angka ini masih lebih tinggi dari rata-rata angka kematian balita secara nasional yaitu 51 per 1.000 balita.

    Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) menunjukkan Prevalensi Gizi Buruk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2011 sebesar 3,29%, sedangkanpada tahun 2012 menjadi 3,8%. Jumlah kematian balita gizi buruk pada tahun 2010 – 2012 mengalami penurunan dari 10 kematian balita gizi buruk menjadi 7 kematian balita gizi buruk.

    Berdasarkan survey anemia pada ibu hamil yang dilakukan pada beberapa kecamatan terpilih pada tiga tahun terakhir, prevalensi anemia ibu hamil menurun dari 61,9 % di tahun 2010, menjadi 54,9% di tahun 2011, dan 52,6% di tahun 2012.

    Ketenagakerjaan Kondisi ketenagakerjaan untuk pengangguran terbuka dari 2008 sampai dengan 2012 mengalami penurunan dari 5,40 % menjadi 3,48 %.

KANTOR GUBERNUR KALIMANTAN BARAT

Alamat: Jl. Ahmad Yani, Pontianak
Kode Pos: 78124
Telepon: +62(561)736541 atau +62(561)732001 ext. 110
Faksimile: (0561) 749702
e-Mail:
Website: www.kalbarprov.go.id