Minimal Lima Tahun Teliti Kratom Sebagai Bahan Farmasi

Image

Pontianak, - Tanaman kratom ditetapkan sebagai narkotika golongan I oleh Komite Nasional Perubahan Narkotika dan Psikotropika pada 2017 lalu, BNN kemudian memberikan waktu lima tahun masa transisi. Hal ini kemudian memantik respon dari banyak pihak, karena kratom dinilai memiliki manfaat yang besar mulai dari sisi ekonomi, kesehatan, ekologi dan lainnya.

              

Bahkan Gubernur Kalbar Sutarmidji telah meminta pihak yang berkompeten melakukan penelitian untuk membuktikan kandungan kratom. Untuk itu Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kalbar mulai melaksanakan penelitian tanaman dengan nama latin mitragyna speciosa itu pada 2020 ini.

Kepala Balitbang Kalbar Herkulana Mekarryani mengungkapkan, ada beberapa temuan menarik setelah penelitian itu dilakukan. Meski memang penelitian ini akan terus berlanjut dan memerlukan waktu yang tidak sebentar. “Ada beberapa temuan yang menarik, ternyata kratom secara empiris telah diuji tim, bahwa kratom tidak berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Bahkan untuk stamina dan juga kesehatan masyarakat,” ungkapnya saat seminar akhir penelitian swakelola tahun anggaran 2020, Kamis (3/12). Selain itu lanjut dia sudah dilakukan uji coba klinis melalui minuman dengan campuran kratom, madu dan jeruk nipis. Dari uji coba tersebut tidak ada satu pun responden yang merasakan halusinasi. Hasil dari penelitian Balitbang Kalbar yang bekerja sama dengan akademisi ini nantinya akan direkomendasikan ke Balitbangkes, Kemenkes agar bisa dilakukan penelitian lebih lanjut.

              

Harapannya Balitbangkes bisa melakukan penelitian lebih mendalam mengingat secara peralatan dan SDM cukup lengkap dibanding daerah. “Kemudian hasil ini juga kami sampaikan ke BNN bahwa penelitian Kelitbangan ini tidak hanya melihat aspek ekonomi, tapi sosial ekologi dan kesehatan yang bermanfaat (dari kratom). Termasuk ke gubernur, Menkes dan Menkopolhukam untuk disampaikan ke presiden,” pungkasnya.

Lebih lanjut Peneliti Madya Balitbang Kalbar Rudi Setyo Utomo menjelaskan, penelitian yang diinisiasi oleh Balitbang Kalbar ini melibatkan beberapa anggota. Antara lain Nurmainah dari Fakultas Kedokteran, Untan sebagai ahli farmasi, kedua juga dari Untan yakni Agus Wibowo ahli kimia medisinal dan Rusli Burhansyah dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang mengkaji dari sisi ekonomi. “Kami mengungkap fakta di lapangan bahwa selama ini dikatakan kratom itu sebagai narkotika, kami ingin melihat fakta empirisnya, terutama dari kearifan lokal di Kabupaten Kapuas Hulu sebagai sumber utama penghasil kratom,” ungkapnya.

Dari sebanyak 152 responden yang dilibatkan menurutnya tidak ditemukan satu pun kejadian yang menunjukkan adanya ketagihan, kecanduan atau ketergantungan terhadap kratom. Bahkan ada beberapa kasus lanjut dia, orang yang terkena diabetes dan kakinya sudah membusuk bisa sembuh dengan terapi kratom. Selama tujuh bulan kadar gulanya terus menurun, kemudian lukanya menutup kembali.  “Ini ada dua yang sudah parah penderita diabetes. Nah kami penelitian kratom ini sebenarnya berlanjut, pertama kami meneliti mengenai peran ekonominya, kedua melanjutkan untuk pengembangannya sebagai bahan farmasi,” jelasnya.

Selain itu responden juga menyatakan bahwa kratom bisa digunakan untuk menambah stamina. Termasuk beberapa pengobatan lainnya seperti anti hipertensi, anti diare, obat batuk, malaria, diabetes, obat luka luar, obat gatal dan lain sebagainya. “Yang jelas itu dosisnya, ini mungkin dosis ini sangat penting ya karena kadang-kadang ini bagi orang yang masih awam benar mengenal kratom, dosis ini yang baik adalah sekitar satu per empat sendok teh, itu kebanyakan yang diminum oleh masyarakat,” paparnya.

Sementara penelitaian untuk pengembangan kratom sebagai bahan baku farmasi, dipaparkan Rudi harus melalui beberapa tahapan. Tahun pertama dengan mengekstrak kandungan senyawanya. Selanjutnya di tahun kedua akan dicoba uji secara laboratorium atau in vitro. Kemudian di tahun ketiga baru akan menguji toksisitasnya terhadap organ-organ dalam hewan atau uji in vitro. Dan kemudian di tahun ke empat dan kelima baru bisa dilakukan uji klinis. “Jadi setelah itu kami baru bisa menyatakan bahwa kratom ini bisa dikembangkan, bisa memiliki fungsi-funngsi yang tadi kami buktikan dari kearifan lokal,” ucapnya.

Ia menyebut, perkiraan penelitian ini bisa tuntas paling cepat sekitar lima tahun. Karena memang untuk uji klinis, diperkirakan bakal memakan waktu yang cukup lama itu. Saat ini dikatakan dia, tahapan yang dilakukan Balitbang Kalbar baru sampai menggali fakta empiris dan kemudian mengkaji dampak ekonominya. Setelah itu sudah dilakukan juga ekstraksi dari beberapa senyawa yang terkandung di dalam daun kratom, terutam kandungan alkaloidnya. “Dan kami bedakan antara kratom yang tumbuh di daerah pesisir, perbukitan dan kratom vena merah, vena hijau dan kratom vena putih,” tutupnya.**


Oleh: (Emi Puterina, SH)

Share this Post: